Rabu, 31 Agustus 2016

Menghujat Politik Ulama

Menghujat Politik Ulama

Baca Juga

POLITIK adalah suatu cara yang dipakai untuk mencapai sesuatu. Setiap interaksi yang terjadi antar manusia sarat akan menimbulkan tindakan berpolitik. Baik pelaku tersebut mengerti politik maupun tidak.
Karena usaha yang manusia lakukan untuk mempengaruhi dan memperoleh keinginan dari manusia yang lain juga merupakan tindakan politik. Tentu saja setiap kita pernah melakukan itu.
Paling tidak sedari kecil kita pernah berusaha dengan cara merengek dan menangis pada orang tua kita supaya dikabulkan kemauan kita. Artinya suka atau tidak suka dengan politik, secara tidak langsung kehidupan kita sebagai manusia penuh dengan politik.
Namun dalam kehidupan masyarakat, politik cenderung berkembang sebagai bentuk tindakan merebut dan mempertahankan kekuasaan pada tataran pemerintahan saja. Celakanya, para politisi sering bertindak menghalalkan segala cara dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan dan hal ini memberi citra buruk bagi politik dimata masyarakat.
Sehingga politik menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, tidak bisa diterima baik. Seiring perkembangan yang terjadi, phobia akan politik semakin menjadi jadi. Seseorang yang berpolitik akan di cap dan diberikan lebel yang jelek, bahkan bisa mencapai pada tahap dikucilkan.
Kita tahu bahwa hukuman yang terberat sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemana pun ia pergi hendak berinteraksi, maka tiada sesiapa pun yang mau mendekat. Padahal sebagai makhluk sosial, manusia sangat membutuhkan manusia lain.
Meski tidak memberi materi pada interaksi ini, setidaknya sekadar mendengar keluh kesah kehidupan sudah memadai. Jelas ketika mendapat hukuman semacam ini, hidup semakin berat. Tiada apa apa yang bisa dilakukan untuk mendapat kebahagiaan.
Pada beberapa kasus, seseorang yang menerima hukuman seperti ini, tidak sedikit yang menderita perasaan seakan tidak ingin hidup lagi di dunia ini.
Fenomena pemberian hukuman semacam ini jauh akan lebih menarik ketika kita mengaitkan dengan terjunnya ulama kedalam perpolitikan. Sosok yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Aceh. Apa yang ulama sampaikan akan menjadi petuah yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Kemudian ketika sang ulama berpolitik, meski tidak sampai pada tahap sepenuhnya dikucilkan. Namun paling tidak perkataan beliau akan menipis pengaruhnya. Bagi mereka yang awam juga akan mengucilkan, meski seorang ulama.
Pro dan kontra terhadap ulama memang bukanlah hal yang patut dipertanyakan, mengingat besarnya pengaruh ulama. Bagaimanapun mereka yang telah paham pasti akan mendukung ulama yang berpolitik.
Seperti pembahasan di atas, bukanlah politiknya yang salah. Tetapi tergantung pada cara apa yang dipakai oleh politisi.
Dengan latar belakang seorang ulama, penulis berkeyakinan bahwa seorang ulama pasti akan memakai cara yang santun dalam berpolitik.
Sesuatu yang sangat penulis idam-idamkan sedari dulu, dengan harapan bisa memperbaiki citra politik dimata masyarakat.
Suatu ketika penulis berkesempatan mengikuti workshop karya tulis untuk Santri Pondok Pesantren yang diselenggarakan oleh KEMENAG Aceh. Workshop ini mengusung tema “Melanjutkan Tradisi Menulis untuk Taklukkan Dunia”.
Abu Faisal Ali menjadi salah satu pemateri hari itu. Beliau menyampaikan bahwa berpolitiknya ulama adalah salah satu bentuk usaha ulama untuk kemaslahatan umat. Semestinya umat tidak perlu phobia ketika ulama berpolitik.
Beliau menambahkan, dulu ketika pemberlakuan DOM di Aceh. Banyak kontribusi politik ulama sehingga umat terselamatkan.
Pada saat itu hanya ulama yang mampu membawa pulang masyarakat sipil yang disandera militer. Sesuatu yang tidak mampu dilakukan orang lain bahkan sekaliber Gubernur. Sanak keluarga dari pihak masyarakat sipil yang ditahan oleh militer ini.
Mereka datang ke ulama Dayah meminta bantuan supaya anggota keluarganya dibebaskan. Berangkatlah Abu atau Tengku ke pos pos militer bersama politisi dari fraksi partai politik yang tidak bisa penulis sebutkan di tulisan ini.
Alhamdulillah usaha ini memperoleh hasil yang baik, mereka yang ditahan diizikan pulang. Kejadian seperti ini berlangsung lama dan banyak sekali kasus yang melibatkan ulama untuk membebaskan masyarakat sipil.
Ketika pemilu akan tiba, para politisi yang membantu Abu dalam negosiasi pembebasan masyarakat sipil tadi akan datang ke Abu. Mereka meminta bantuan Abu untuk membantu berkampanye. Tentu saja Abu tidak bisa menolaknya, dulu dia telah membantu Abu.
Bila Abu menolak, maka kedepan Abu tidak dapat lagi menolong masyarakat sipil yang ditahan. Dalam hal ini, sesungguhnya ulama telah berkorban untuk kemaslahatan umat. Namun sebagian umat masih ada yang mencela tindakan Abu yang padahal untuk menolong mereka sendiri. Hanya saja Ulama mempunyai akhlak yang luhur, cacian itu justru tidak dibalas.
Kita juga menyaksikan ada ulama yang seakan akan dimanfaatkan oleh kandidat, supaya ia laku dimata masyarakat. Pemanfaatan ini dilakukan dengan berbagai macam cara. Seperti dengan cara mengundang ulama pada acara pengukuhan timses, deklarasi, bahkan peusijuk sekalipun. Biasanya di acara itu ulama akan difoto, kemudian dipublis ke media dengan mengeluarkan statement bahwa ulama tersebut mendukung kandidat tersebut.
Meskipun terlihat seperti dimanfaatkan, penulis yakin bahwa ini adalah bentuk strategi politik Ulama, yaitu : politik mengalah untuk menang.
Keberlangsungan agama juga tidak terlepas dari pengaruh kebijakan seorang kepala daerah. Ketika kandidat yang “memanfaatkan” ulama menang, seharusnya ia mendengar ulama tersebut dalam mengambil kebijakan yang ia keluarkan. Inilah strategi yang ulama jalankan, jadi ketika ada kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada Agama, maka ulama dapat membendungnya.
Namun yang terjadi sekarang, banyak kandidat yang telah menjadi kepala daerah atas bantuan Ulama justru tidak mau mendengar lagi petuah dari Ulama tersebut. Sehingga karena keresahan ini, Ulama harus mengambil tindakan mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah.
Pesta demokrasi pada pemilukada 2017 kelak menjadi sesuatu yang menarik untuk kita ikuti perkembangannya. Sampai saat ini telah ada beberapa ulama di daerah Aceh yang mengusungkan diri menjadi calon bupati atau wakil bupati.
Bila dulu ulama ikut serta berkampanye untuk salah satu kandidat, maka kali ini Ulama sendiri yang menjadi kandidat. Seperti kejadian dulu, tetap saja ada pihak yang pro dan juga kontra.
Terlepas dari berbagai pertimbangan tersendiri. Penulis sendiri memandang tindakan Ulama untuk terjun sebagai kandidat, pasti memiliki alasan yang cukup kuat untuk kemaslahatan umat.
Kita sebagai masyarakat bahkan sebagai umat, semestinya tidak menghujat tindakan ulama. Pada dasarnya ulama dengan keilmuannya lebih mengerti daripada kita.
Tunjukkan kedewasaan kita dalam berpolitik, jangan karena cacian kita kepada ulama membawa kita terseret ke neraka kelak.
Kepada kandidat dan seluruh timses yang bertarung dengan ulama pada pemilukada mendatang agar tidak menyebarkan isu buruk atas pencalonan ulama sebagai kandidat.
Mari gunakan strategi politik santun, demi terciptanya citra politik yang lebih baik di masa mendatang. [ZAHRUL FUADI, mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah. Email : peujampoehpureeh@gmail.com]


sumber:
http://aceh.tribunnews.com/2016/08/31/menghujat-politik-ulama
BACA JUGA :
loading...

Related Posts

Menghujat Politik Ulama
4/ 5
Oleh