Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Jenderal Sudirman Belum Pernah Ditangkap Belanda & PKI Karena Pakai �Jimat�- Pontianak Informasi

Pemerhati Komunisme, KH Muh Jazir mengungkapkan bahwa diantara para pejuang dan pahlawan nasional yang belum pernah ditangkap oleh penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI atau kelompok Komunis pada zaman revolusioner adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Bahkan beberapa kali para petinggi penjajah Belanda, Inggris dan juga PKI mengeluarkan keputusan dan mengerahkan pasukan untuk menangkap Jenderal Sudirman hingga terkepung, mereka tidak juga bisa menangkap Jenderal Sudirman.

Hal ini dikatakan KH Jazir saat menjadi pemateri dalam tabligh akbar �Mencerdaskan Umat dari Bahaya Komunis� di Masjid Jami� Wedi Klaten pada Ahad (31/5/2015) malam.

Dengan fenomena tersebut, orang-orang yang memanggul Jenderal Sudirman, seperti Suparjo Rustam, Tjokro Pranolo sampai kaget dan terheran-heran. Sebab, pada saat itu Jenderal Sudirman sedang dalam kondisi sakit.

�Bahkan pada waktu Jenderal Sudirman dikepung oleh tentara Inggris di sekitar Jambu (Temanggung �red) dan Ambarawa (Magelang �red), disitu kan ada sebuah pegunungan dan Jenderal Sudirman beserta pasukannya ada ditengah-tengah, tapi nyatanya Jenderal Sudirman bisa lolos dari pengepungan,� ungkap KH Jazir.

Aktivis senior di Kota Yogyakarta (Jogja) ini menambahkan, hingga pada suatu saat, para pejuang yang setia mendampingi Jenderal Sudirman dan yang memanggung pria yang disebut oleh pasukannya dengan nama �Mas Kyai� itu bertanya, �jimat� apa yang dipakai oleh Jenderal Sudirman.

�Bahkan sampai herannya, Suparjo Roestam dan yang lainnya yang memanggul Jenderal Sudirman ini bertanya. Sebenarnya jimat apa yang dipakai Mas Kyai ini sehingga selalu lolos dan tidak bisa ditangkap oleh Belanda dan PKI.

Lalu dengan senyum kecil, Jenderal Sudirman menjawab, iya, saya memang pakai jimat,� ujarnya.

�Dan jimat saya adalah, saya berperang selalu dalam keadaan wudhu".

Jadi yang pertama Jenderal Sudirman itu selalu bersuci sebelum memulai peperangan. Makanya, kalau kita menyusuri jejak perjuangan dan pemberhentian pasukan Jenderal Sudirman, disitu kita akan mendapati adanya sebuah
padasan (semacam gentong atau tempat air yang terbuat dari tanah liat �red), dan padasan itu fungsinya adalah untuk berwudhu Jenderal Sudirman,� jelas KH Jazir.

�Kemudian yang kedua, jimat Jenderal Sudirman adalah sholat di awal waktu.
Jadi dalam kondisi apapun, meskipun sedang pecah perang, Jenderal Sudirman tidak pernah meninggalkan sholat wajib diawal waktu,� imbuhnya.

Dan yang ketiga, Jenderal Sudirman berkata bahwa "aku mencintai rakyatku sepenuh hati".

Bahkan jika Jenderal Sudirman membawa perbekalan makanan disaat perang, lalu singgah disuatu tempat, maka para pasukannya itu disuruh memberikan makanan itu kepada warga terlebih dahulu,� ucapnya.

Itulah pemimpin idaman, selalu dalam keadaan berwudhu, shalat di awal waktu dan mencintai rakyat tanpa pamrih sepenuh hati. Bagaimana dengan para pemimpin sekarang? Apakah terjaga ibadahnya? Apakah benar-benar mencintai rakyatnya?

Minggu, 17 Mei 2015

Inilah 6 Karya Ridwan Kamil di Luar Negeri- Pontianak Informasi

Indonesia ternyata punya beberapa tokoh walikota yang inspiratif, salah satunya sosok muda dari Bandung yang bernama Ridwan Kamil. Selama ini, sosok Ridwan Kamil dikenal oleh warga Bandung sebagai seorang arsitek lulusan ITB yang melanjutkan studi S2-nya di jurusan Urban Design di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Beliau telah banyak berkarya dalam bidangnya.

Museum Tsunami di Aceh adalah salah satu karyanya. Ada juga arsitektur Masjid Al-Irsyad yang sangat indah di pinggiran kota Bandung, dan masih banyak lagi. Tak hanya di dalam negeri, Ridwan Kamil juga telah menelurkan beberapa karya di luar negeri. Untuk karya Ridwan Kamil sendiri ada lebih dari 40 rancangan di luar negeri, baik secara pribadi, maupun bersama dengan tim Urbane jasa  konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain yang didirikannya.

Beberapa karya Ridwan Kamil di luar negeri dihasilkan ketika masih bekerja di Amerika. Umumnya, proyek di luar negeri berupa pengembangan kawasan perkotaan. Karya arsitektur Ridwan Kamil di luar negeri dihasilkan dari pengalaman bekerja di konsultan arsitek dan desain ternama di Amerika Serikat.

Dari sekian banyak karyanya bersama tim Urbane di luar negeri, berikut ini 6 diantaranya yang mungkin belum banyak diketahui:

1. Marina Bay Waterfront Master Plan Singapore

Inilah karya Ridwan Kamil di luar negeri, lebih tepatnya di negeri singa Sinagapura, pembuatan rancangan Master Plan untuk Marina Bay Waterfront.



2. Ras Al Kaimah Waterfront Master Plan

Salah satu karya Ridwan Kamil di Timur Tengah, tepatnya Uni Emirat Arab.



3. Grand Tourism Community Club House Calcutta

Grand Tourism Community Club House ini adalah salah satu karya Ridwan Kamil di Calcutta India. Kalkuta merupakan salah satu kota pelabuhan penting di India yang merupakan ibu kota Benggala Barat.


4. Suzhou Retail Waterfront Masterplan China

Pembuatan rancangan Suzhou Retail Waterfront di China.


5. Masjid Beijing Islamic Centre

Salah satu karya arsitektur religi Ridwan Kamil di luar negeri adalah Masjid Beijing Islamic Center.

6. Tech Park Kunming

Area industri teknologi di daerah Kunming, China.


Melihat hasil karya-karyanya, bukan hanya warga Bandung yang merasa bangga dengan Ridwan Kamil namun Indonesia juga perlu bangga memiliki putra bangsa yang berprestasi. (*)

More article:

Selasa, 21 April 2015

Sang Marbot Masjid, Kisah Nyata dari Masjid Puncak Bogor- Pontianak Informasi


Cerita ini nyata yang mengisahkan dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dengan kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Mesjid tersebut adalah mesjid At-Ta'awun yang berada di puncak Bogor.

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!

�Maaf,� katanya menegor sang merbot. �Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?�.

Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan, Ahmad berucap
�Keren sekali Kamu ya Mas� Manteb��. Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. �Ah, biasa saja��.

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidatnya yg lebar terlihat jelas.

�Mad� Ini kartu nama saya��.

Ahmad melihat. �Manager Area��. Wuah, bener-bener keren."

�Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf��.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. �Terima kasih ya� Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu� Silahkan ya. Yang nyaman�.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot� ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.
Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya�

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bersih-bersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan �office boy�.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah sepertinya.
Setelah menyelesaikan shalatnya Zaenal sempat melirik. �Barangkali ini kawannya Ahmad��, gumamnya.
Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad.

�Pak,� tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.

�Iya Mas..?�

�Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad�?�

�Insinyur Haji Ahmad�?�

�Ya, insinyur Haji Ahmad��

�Insinyur Haji Ahmad yang mana�?�

�Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak��

�Oh� Ahmad� Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?�

�Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid��.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal� Dari dulu sudah haji� Dari sebelum beliau bangun masjid ini�

Anak muda ini kemudian menambahkan, �Beliau orang hebat Pak. Tawadhu�. Saya lah yg merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau biayai sendiri pembangunan masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat  hotel indah di sebelah sana? � Itu semua milik beliau... Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan��.

Zaenal tertegun, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zaenal saat itu

*****
Ada pelajaran dari kisah pertemuan Zaenal dan Ahmad. Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu bertemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita yang sebenarnya.

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Semoga ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap tenang dan tidak risih dengan penilaian manusia. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya...

"Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi" Orang yang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya.[Ya'qub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs]

Silakan bagikan ke facebook kisah inspiratif ini, semoga semakin banyak orang yang terinpirasi

Rabu, 31 Desember 2014

Kenthung Tuyul dan Mbak Yul: Hidup Memang Bukan Sinetron- Pontianak Informasi


Masih ingat dengan sinetron Tuyul dan Mbak Yul? jika anda masih ingat pastilah sosok ini dulu sangat akrab di ingatan Anda. Dia adalah Kentung. Jin paling gemuk di serial itu. Berikut ini penuturan Feriawan Agung Nugroho, seorang pekerja sosial di Dinsos Daerah Istimewa Yogyakarta yang menceritakan pertemuannya dengan Bambang Triyono yang tak lain adalah pemeran Kenthung dalam sinetron Tuyul & Mbak Yul yang kini hidupnya terlantar.

Pada tanggal 24 Desember 2014, saya bertemu dengan dia. Bukan dalam kapasitas penggemar dengan artis, tetapi antara seorang pekerja sosial dari Dinsos DIY dengan seorang calon klien. Lansia terlantar.

Kaget? Ya, sangat, seperti saya ketika sehari sebelumnya mendapatkan sms forward bahwa dia adalah calon klien yang dulu pernah main sinetron Tuyul dan Mbak yul. Benarkah dia Kentung yang itu? Ataukah cumi? Ataukah KW2? Kalau memang benar apa yang sedang terjadi?

Tinggal di salah satu kamar kos-kosan di RT 5 RW 15, Ngangkruk, Sardonoharjo, Sleman, dia memang Kentung. Saya ke sana diantar oleh salah seorang relawan dari Forkom Lanjut Usia. Satu kamar yang menjadi terkesan sempit ukuran 3x4, sedikit bau tak sedap, saya benar-benar bertemu Bambang Triyono, pemeran Kentung. Manusia gemuk itu sudah tidak bisa berdiri lagi, hanya duduk di kamar dan kalau mau berpindah tempat, dia glundang -glundung. Memang benar, dia dirujuk ke Dinas Sosial karena keterlantaran hidupnya. Kamar sempit itu sudah ditinggalinya 3 bulan, itu pun lewat biaya yang ditanggung relawan. Kentung benar-benar miskin dan terpuruk.

Sebagai profesional, sudah semestinya saya memasang wajah ceria dan jabat tangan mantap, mencoba mencari tempat duduk yang tidak terlalu berjarak dan posisi tubuh yang dicondongkan ke depan sebagai posisi seseorang yang siap memperhatikan lawan bicaranya. Susah untuk menemukan yang tak berjarak karena di situ hanya ada satu kasur yang 3/4 nya sudah terisi oleh tubuh si Kentung. Dari tetangga kami mendapat pinjaman kursi plastik.

Wajahnya ceria, tanpa perlu saya pantik dengan kalimat-kalimat pembuka atau basa basi sebagai peluruh suasana dia sudah bocor bercerita ngalor-ngidul. Sesungguhnya saya merasa nggak nyaman, karena apa yang dia bicarakan hampir seluruhnya adalah kisah-kisah sukses dia, riwayat-riwayat karier dia ketika sukses, kenalan-kenalan dia yang dari berbagai lapisan, dan saya sama sekali tidak menangkap apa yang saya butuhkan: mengapa dia sampai di sini dan berstatus sebagai orang terlantar?

Walhasil, seperti merangkai mozaik, lewat pemotongan pembicaraan agar sesuai rel, saya berhasil meraba benang merahnya.

Kentung memang terlahir sebagai artis. Sejak kecil dia sudah terkenal karena kegemukannya. Pernah dimuat di harian lokal, sampai kemudian masuk MURI sebagai manusia tergemuk. Dari situ dia ditarik untuk ikut meramaikan panggung komedian seperti Srimulat, sekitar tahun 68, dan juga panggilan-panggilan sebagai artis pembantu untuk beberapa film. Uang bukan perkara susah baginya. Ibaratkan saat ini, sehari mengeruk lima juta rupiah atau bahkan lebih, sudah biasa. Sayang, bahwa rupiah yang mengalir ke kantongnya seolah tanpa berkah. Sehari dia mendapat uang, sehari itu pun uang bisa habis tanpa sisa. Sangat royal. Kebiasaan buruk dia adalah mabuk, entah sebelum manggung ataupun sesudah manggung, atau kapanpun dia diundang. Ibaratkan, mabuk pun dia dibayari. Urusan mabuk bagi dia merupakan kebiasaan umum bagi para selebritis, termasuk pelawak. Maka bagi dia, ketika ada artis masuk bui gara-gara narkoba, dia tidak heran. Sudah bukan rahasia lagi kalau pelawak-pelawak yang dia kenal memang pecandu narkoba semua.

Kebiasaan buruk lainnya adalah, mental dia yang memang bukan mental seorang terhormat. Dia biasa tidur dari satu terminal ke terminal, dari stasiun ke stasiun tanpa pernah nyaman untuk hidup normal dengan punya rumah.

Dia menikah, punya istri dan kemudian punya anak. Istri yang polos dan tidak pernah menuntut macam-macam. Sampai suatu ketika, kelumpuhan yang mungkin karena jatuh stroke, segalanya berubah. Tahun 2010 dia sudah tidak bisa lagi beraktifitas termasuk dalam pemenuhan hasrat biologis. Istrinya menceraikannya tahun 2011. Sejak saat itulah dia frustrasi. Tanpa penghasilan, dia menggelandang dari satu tempat ke tempat lain dan melakukan pekerjaan apapun. Kadang meramal, kadang pijit, di tempat apapun, termasuk dari terminal ke terminal. Keinginan bunuh diri sudah berulangkali terjadi. Teman-teman, relasi dan siapapun yang berduit yang dia harapkan bisa mengangkat kehidupannya, semuanya pergi. Pertemanan dalam dunia selebritis itu kejam, karena segala keakraban tidak lebih dari sekedar show bisnis, cari proyek, ataupun cari sensasi untuk mendongkrak popularitas. Ketika seseorang sudah terpuruk seperti dia, ibarat sampah, jangankan ditolong, semisal ketemu di jalan, menoleh pun tidak. Diusir dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya dia ditemukan kader lansia dan ditempatkan di kost sederhana ini. Makan apa adanya, kalaupun sehari hanya bisa masuk tiga sendok nasi, itu sudah alhamdulillah. Anaknya sesekali mengunjunginya, anaknya tak bisa banyak menolongnya karena penghasilan sebagai tukang cuci piring tentulah tak seberapa. Sekarang, dia mengharap kami dari pemerintah untuk mengulurkan tangan kepadanya.

Demikian yang berhasil saya rangkum, karena selalu dan selalu dia meloncat pada peristiwa-peristiwa heboh yang ada dalam hidupnya.


Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Secara, usia dia belum termasuk lansia, dan perhatian yang semestinya dia butuhkan tak bisa dipenuhi oleh PSTW (butuh tempat tidur khusus, butuh 4 orang untuk membantu dia bergerak, butuh kursi roda khusus).

Lewat ijin dia, saya diperkenankan untuk meliput kisah hidupnya ini dan harapannya agar ada pihak yang berempati. Apapun itu, bisa langsung ke TKP untuk bertemu yang bersangkutan. Bantulah dia...
(sumber: fb Feriawan Agung Nugroho)