Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Sebaiknya Jangan Ucapkan 6 Kalimat Ini pada Anak, Nomor 2 Paling Sering Diucapkan- Pontianak Informasi


Kehidupan yang serba cepat dan sibuk bisa membuat orangtua lupa diri saat berkomunikasi dengan anak. Hasilnya, beragam kalimat yang seharusnya tak didengar buah hati pun menjadi santapan sehari-hari. Padahal, beberapa kalimat memiliki kemampuan untuk memengaruhi hingga menyakiti hati si kecil. Berikut ini enam kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orangtua.

1. �Duh, kamu ini kebangetan��
Anak-anak, khususnya anak usia dini, memercayai begitu saja apa yang mereka dengar tanpa banyak bertanya. Salah satunya, label negatif yang disematkan pada mereka. kalimat yang melabeli justru akan menjadi pengakuan yang semakin membuat anak yakin bahwa ia memiliki sifat seperti yang �dituduhkan�. Misalnya, ketika anak berlaku kasar terhadap teman dan Anda memarahinya dengan menyebut si kecil �nakal�.

Sebaiknya, Anda memberi tahu bahwa kebiasaan atau perilaku tersebut kurang baik, tanpa menyebut kata sifatnya. Misalnya, �Putri sangat sedih, lo, waktu kamu bilang ke teman lain agar tidak bermain bersama dia. Yuk minta maaf dan hibur.�

2. �Dasar cengeng��
Menangis adalah cara seorang anak, khususnya anak-anak usia dini, untuk mengekspresikan perasaan mereka. ketika mereka kesal, lelah, atau takut, mereka akan menangis. Wajar memang jika orangtua lebih mengidamkan anak yang jarang menangis. Namun, menyebut anak sebagai cengeng tentu tidak tepat, juga tidak bermanfaat.

Kalimat seperti ini hanya akan mengirimkan pesan ke anak bahwa apa yang dirasakan anak itu tidak tepat. Menangis itu salah. Jadi, alih-alih melontarkan ucapan yang �menyakitkan� seperti itu, sebaiknya kenalkan anak pada emosi yang ia rasakan lebih dulu. Misalnya, �Kamu pasti kesal, ya, waktu Gisel bilang tidak mau lagi berteman. Tidak apa-apa, teman yang lain, kan, masih banyak. Mama juga nanti ikut temani kamu bermain, deh��

Dengan demikian, Anda telah membantu memberinya kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan.

3. �Contoh, tuh, kakak kamu��
Jika anak enggan belajar sementara kakaknya tak perlu lagi disuruh untuk mengerjakan PR, bukan berarti Anda bisa langsung membanding-bandingkan keduanya. Pasalnya, kegiatan membanding-bandingkan ini tak selalu berhasil membuat anak terpacu untuk seperti kakaknya.

Membandungkan anak dengan saudara atau teman-temannya menunjukkan bahwa Anda menginginkan anak menjadi seseorang yang berbeda. Bahkan bila sampai memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu yang tak ia sukai atau belum saatnya dia lakukan, bisa-bisa membuat anak bingung dan kehilangan kepercayaan dirinya sehingga ia merasa tak disayang dan kecil hati hingga dewasa nanti.

Jadi, coba gantilah kalimat Anda dengan kalimat seperti, �Hebat, ya, kalian berdua, makan pagi habis. Mama senang, deh.�

4. �Kamu harusnya bisa lebih pintar��
Sama halnya membanding-bandingkan, kalimat seperti ini bisa berdampak luar biasa. Ingat, belajar adalah sebuah proses trial and error. Anak boleh jadi tidak tahu bahwa mengambil cokelat dari kulkas bisa dilakukan tanpa perlu membuat kulkas berantakan. Apabila diingatkan dan diberi tahu bagaimana seharusnya ia mengambil dengan baik, tentu akan lebih baik untuk perkembangannya.
Namun, jika suatu hari anak melakukan kesalahan serupa pun, kalimat seperti ini tetap saja tidak suportif dan tak bermanfaat. Lebih baik, sampaikan secara spesifik, seperti, �Kalau mau mengambil cokelat, Adik boleh kok, minta tolong Mama��

5. �Cukup atau Mama Hukum!�
Ancaman biasanya muncul akibat orangtua frustrasi menghadapi tingkah anak. Kalimat ancaman tak efektif untuk membuatnya tak melakukan kesalahan lagi.

Masalahnya, cepat atau lambat, Anda harus mewujudkan ancaman itu agar tetap memiliki kekuatan di hadapan anak. perlu diketahui, semakin dini usia anak, semakin lama pula ia memahami perintah. Akan jauh lebih efektif mengembangkan taktik yang konstruktif atau melakukan sanksi �time-out�, ketimbang memberi ancaman verbal.

6. �Ayo, Cepat!�
Di zaman yang serba cepat, siapa sih yang tidak pernah mendengar kalimat seperti itu? lihat saja, setiap pagi orangtua memburu-buru anaknya supaya segera mandi, makan, memakai seragam dan sepatu, dan sebagainya.

Jika ini rutin dilakukan, sebaiknya Anda perlu waspada. Anak akan merasa bersalah karena telah membuat orangtuanya menjadi begitu �heboh� dan panik, tetapi hampir tidak ada anak yang kemudian berubah perilakunya.

Jadi, daripada membentak dan memburu-buru anak setiap pagi, lebih baik mencari cara yang lebih �tenang� untuk meminta anak melakukan sesuatu. Misalnya, mengambilkan anak sepatu, mematikan TV agar anak tidak menonton acara kartun sambil makan pagi, bangunkan anak lebih awal, dan sebagainya.

Itulah 6 kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orangtua. Sebarkan dan semoga bermanfaat.

Kamis, 26 Februari 2015

Sang Ibu Kerja, Baby sitter Sewakan Bayi ke Pengemis- Pontianak Informasi


Agnes, salah seorang pengguna sosial media path memposting status yang menceritakan  kasus pengasuh yang menyewakan bayi majikannya. Agnes membeberkan cerita bahwa temannya di kantor mendadak resign dari pekerjaannya. Hal itu dilakukan setelah temannya tersebut mengetahui jika selama ini bayinya disewakan oleh baby sitter ke pengemis ketika ia berada di kantor.

Rupanya ketika si ibu dan suaminya berangkat kerja, si baby sitter yang dibayar untuk merawat bayinya malah mencari penghasilan tambahan dengan menyewakan bayi yang diasuhnya tanpa sepengetahuan tuan rumah. Si bayi disewakan untuk digendong di jalanan ibukota dengan tarif 150 ribu dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Selama disewa si bayi digendong pengemis dibawah terik panas matahari. Tiap hari bayi tersebut diberi antimo oleh si penyewa supaya tidur terus dan tidak rewel.

Agnes juga menceritaan terbongkarnya kasus ini yang bermula dari ayah si bayi memergoki anaknya sedang digendong pengemis di jalan.

"Kasus ini terbongkar ketika ayah si bayi memergoki anaknya digendong oleh pengemis saat terjebak kemacetan, pas si bayi mau diminta, pengemis tetap tidak mau memberikan karena sewa bayinya sampai jam empat sore, " jelasnya.

Atas kejadian yang dialaminya tersebut, ibu si bayi merasa sangat menyesal karena sudah meninggalkan bayi bersama pengasuhnya. Ia terus menangis dan menyesal karena lebih mementingkan pekerjaan daripada mengurus buah hatinya. Baginya, kejadian yang dialaminya tersebut sungguh sulit untuk dilupakan, uang berapapun tak bisa membayar kenangan buruk tersebut.

Para ibu yang mempunyai bayi maupun balita, terutama yang hari-harinya sibuk bekerjadi luar rumah, berhati-hatilah dalam memilih pengasuh anak. Jangan sampai kejadian di atas dialami juga oleh kita. Bagikan kisah ini ke facebook agar dapat diambil pelajaran oleh para ibu yang sibuk di luar rumah dan agar bisa lebih waspada.(path)

Jumat, 30 Januari 2015

Jangan Katakan 8 Hal ini pada Anak, Nomor 2 Paling Sering Diucapkan- Pontianak Informasi


Orang tua terutama ibu adalah pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya, oleh karena itu, sebagai orang tua kita perlu terus belajar agar bisa mendidik anak-anak kita sesuai dengan zaman di mana mereka hidup.

Khalifah Kedua Umat Islam, Umar bin Khaththab berpesan �Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,�. Pesan yang singkat dan mudah diingat.

Cara mendidik anak salah satunya melalui lisan, melalui lisan nasihat dan larangan tersampaikan. Namun sayang, banyak orang tua khususnya ibu, yang belum memahami pentingnya menjaga dan memilih kata-kata yang terucap di depan anak. Kata-kata yang terucap dapat berpengaruh pada perkembangan diri, psikologis, dan konsep diri anak.

Di bawah ini ada 8 hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada anak, terutama kepada anak berusia di bawah tujuh tahun:

1. Mengatakan Pernyataan Negatif tentang Diri Anak
�Kamu anak nakal!�
�Kamu pemalas!�
�Kamu anak pelit!�
�Kamu anak bodoh!�
Contoh pernyataan negatif tersebut dapat menyakiti perasaan anak-anak. Mereka akan menjadi seperti yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.

Katakanlah hal-hal positif kepada anak. Misalnya jika anak menerima nilai buruk, jangan mengatakan, �Kamu anak bodoh!�; Katakanlah sesuatu yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, �Jika kamu belajar lebih baik, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik karena kamu sebetulnya adalah anak pintar.� Bukankah kata-kata seperti ini akan lebih menenangkan hati anak kita?

2. Jangan katakan �Jangan Ganggu, Ibu lagi Sibuk!�
Kata-kata tersebut terdengar sangat normal. Seorang ibu sibuk memasak di rumahnya. Atau ayah sibuk membaca berita menarik di koran. Atau mungkin juga melanjutkan tugas yang dibawa dari kantor. Lalu ia mengunci diri di kamarnya. Tiba-tiba anak datang dan meminta dia untuk sebuah bantuan. Dalam situasi yang ketat, orang tua dapat berteriak pada anak itu, �Jangan ganggu! Ayah/Ibu lagi sibuk! �

Menurut seorang penulis yang juga seorang pelatih bela diri verbal, Suzette Haden Elgin PhD, jika orang tua bertindak seperti itu, anak-anak mungkin merasa tidak berarti karena jika mereka meminta sesuatu pada orang tua mereka, mereka akan diberitahu untuk pergi.
Coba bayangkan, jika sikap seperti itu diterapkan pada anak-anak kita, maka sampai mereka tumbuh dewasa, kemungkinan besar mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan orangtua.

Jika memang sedang benar-benar sibuk, cobalah alihkan perhatian anak-anak untuk melakukan kegiatan lain sebelum kita membantu mereka. Misalnya, jika mereka meminta bantuan dalam melakukan pekerjaan rumah mereka dan kondisinya kita sedang benar-benar sibuk, mintalah mereka untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu seperti bermain atau nonton tv. Jika kesibukan sudah berlalu, datangilah anak anda dan tanyakan dengan lembut bantuan apa yang mereka perlukan.

3. Jangan katakan �Jangan Menangis!�
Ketika anak-anak menangis atau bersedih ketika bertengkar dengan teman-temannya. Tidak perlu untuk memarahi atau meminta anak-anak anda untuk tidak cengeng. Banyak anak yang mengalami hal tersebut, orang tua mengatakan pada mereka, �Jangan cengeng!�, �Jangan sedih!�, �Jangan takut!�
Menurut seorang psikolog anak, Debbie Glasser, mengatakan kata-kata tersebut akan mengajarkan anak-anak bahwa perasaan sedih adalah sesuatu hal yang tidak umum, bahwa menangis bukanlah hal yang baik, padahal menangis adalah merupakan ekspresi dari emosi tertentu yang setiap manusia miliki.

Untuk menanggapinya, akan lebih baik untuk meminta anak-anak menjelaskan apa yang membuat mereka sedih. Jika mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-teman mereka, jelaskan pada mereka bahwa perilaku teman-teman mereka adalah tidak baik, jangan dicontoh.
Dengan memberikan penjelasan seperti itu orang tua telah memberikan mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan segera menghentikan atau setidaknya mengurangi tangisan mereka.

4. Jangan Membanding-bandingkan Anak
�Lihatlah temanmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga?�
�Temanmu bisa menggambar dengan bagus, kenapa kamu tidak?�
�Dulu ketika kecil ibu bisa begini begitu, masa kamu tidak bisa?!�
Membanding-bandingkan hanya akan membuat anak anda merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena mereka selalu mendapatkan penilaian buruk dari perbandingan tersebut, sedangkan perkembangan setiap anak berbeda.

Daripada membandingkan, orang tua sebaiknya membantu untuk menyelesaikan persoalannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah mengenakan pakaian mereka sementara teman atau tetangganya yang seusia dengannya bisa melakukannya lebih cepat, orang tua harus membantu mereka untuk melakukannya secara benar.

5. Jangan katakan �Tunggu Ayah Pulang! Biar kamu dihukum ayah�
Adakalanya seorang ibu berada di rumah bersama anak-anaknya sementara ayah tidak berada di rumah. Ketika anak melakukan kesalahan, ibu tidak segera memberitahu anak-anak tentang kesalahan yang mereka buat. Si ibu hanya mengatakan, �Tunggu sampai ayahmu pulang.� Ini berarti menunggu sampai ayahnya yang akan menghukum nanti.

Menunda mengatakan kesalahan hanya akan memperburuk keadaan. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya.
Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tidak menunda dalam mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak-anak sebelum menjadi lupa sama sekali, dan koreksilah dengan cara bijaksana melalui nasihat yang bijak.

6. Jangan Terlalu mudah dan berlebihan memberi pujian
Memberikan pujian dengan mudah juga bukan hal yang baik. Memberikan pujian dengan mudah akan terkesan �murah�. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan �Kamu Hebat! Luar Biasa!� Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa.

Pujilah sikap anak kita, dan jangan memuji dirinya atau hasil perbuatannya. Sekiranya ia mendapat hasil bagus di sekolah, pujilah �Alhamdulillaah, Ibu bangga dengan kerja keras kamu sehingga kamu mendapat nilai baik!�
Jika kita memuji hasil yang dilakukan anak dan bukan sikapnya, sangat mungkin anak kita akan berfokus pada hasil dan tidak peduli dengan sikap/ karakter yang baik, misalnya� demi mendapat nilai ujian bagus, anak akan mencontek ketika ujian.

7. Jangan Katakan �Kamu tidak pernah..� atau �Kamu Selalu..�
Kalimat lain yang tidak perlu dilontarkan adalah "Kamu selalu...." atau "Kamu tidak pernah...".
Kalimat tersebut kadang refleks diucapkan orangtua ketika merasa kesal dengan kebiasaan kurang baik yang sering dilakukan anaknya.

"Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan "Kamu selalu..." dan "Kamu tidak pernah" adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak," ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis.

Kedua pernyataan yang dilontarkan oleh orang tua tadi akan membentuk kepribadian anak. Anak-anak akan menjadi seperti apa yang dikatakan terhadap dirinya.

Lebih baik bertanyalah kepada anak tentang apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu dia mengubah kebiasaannya. Misalnya, 'Ibu perhatikan kamu sering lupa membawa pulang buku pelajaran ke rumah. Apa yang bisa Ibu bantu supaya kamu ingat untuk membawa bukumu pulang?'. Pernyataan seperti itu akan membuat anak merasa terbantu dan nyaman.

8. Jangan katakan �Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja!�
Jangan katakan "Bukan begitu caranya. Sini, biar Ibu saja." Biasanya orangtua mengeluarkan pernyataan ini jika mereka meminta anak membantu sebuah pekerjaan, namun anak tidak melakukannya dengan benar.

Jenn Berman, PhD memberi saran "Ini sebuah kesalahan, karena anak menjadi tidak belajar bagaimana caranya. Daripada berkata demikian, lebih baik ibu melakukan langkah kolaboratif dengan mengajak anak melakukan pekerjaan itu bersama sambil ibu menjelaskan bagaimana cara melakukannya,".(uo/rtrw)