Tampilkan postingan dengan label kriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kriminal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Ini Sosok dr Indra, Tersangka Vaksin Palsu di RS Harapan Bunda | Pontianak Informasi

Ini Sosok dr Indra, Tersangka Vaksin Palsu di RS Harapan Bunda | Pontianak Informasi

Ini Sosok dr Indra, Tersangka Vaksin Palsu di RS Harapan BundaFoto: istimewa
Jakarta - Tak ada satu pun orang tua anak korban vaksin palsu di Rumah Sakit Harapan Bunda yang menyangka dr Indra Sugiarno Sp.A ditetapkan Bareskrim Polri jadi tersangka. Di mata para orang tua, sosok dr Indra dikenal ramah dan religius.

dr Indra Sugiarno Sp.A menjadi salah satu dari--sejauh ini--tiga dokter yang ditetapkan sebagai tersangka kasus vaksin palsu. Dia diketahui berpraktik di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur.

Nama dr Indra memang terus jadi buah bibir ratusan orang tua anak korban vaksin palsu yang memenuhi RS Harapan Bunda, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, untuk meminta pertanggungjawaban. Dia disebut-sebut terlibat menggunakan vaksin palsu terhadap para pasiennya.

Hal tersebut juga telah dikonfirmasi oleh para orang tua korban saat pihak RS Harapan Bunda memberikan keterangan pada Jumat (15/7/2016) di lapangan parkir di samping rumah sakit tersebut. Kala itu hadir Ketua Komite Medis RS Harapan Bunda dr Seto Hanggoro SpU dan anggota Komite Medis dr Harmon SpA.

Saat itu kepada dr Seto ditanyakan soal apakah benar dr Indra--salah satu dokter anak di RS Harapan Bunda--sudah ditetapkan sebagai tersangka. dr Seto mengaku belum mendapat informasi soal itu, namun dia membenarkan bahwa dr Indra tengah diperiksa polisi.

Tak berselang lama usai jumpa pers yang berlangsung ricuh itu, kebenaran pun terkuak. Sore harinya Direktur Tipid Eksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan bahwa dr I telah ditetapkan jadi tersangka.

"Jadi tersangka dokter tambah satu, berinisal I dari Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur," ujar Brigjen Agung dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta. Inisial I diketahui para orang tua merujuk ke satu nama yakni, dr Indra. Tak ada dokter anak lainnya di RS tersebut yang nama depannya berinisial I. Apalagi dr Seto sebelumnya telah membenarkan bahwa dr Indra tengah diperiksa polisi.

Mendengar kabar itu, grup WhatsApp yang dibentuk para orang tua korban vaksin palsu di RS Harapan Bunda pun mendadak ramai. Rata-rata mengaku terkejut dan tak percaya dr Indra jadi tersangka.

Keterangan para orang tua, dr Indra ini adalah sosok bapak yang penuh wibawa dan ramah. Tubuhnya cukup gemuk, dengan tinggi sekitar 170 cm. Ia selalu mengenakan peci saat bertugas. Sosok dr Indra dikenal sangat religius oleh para suster dan orang tua anak yang menjadi pasiennya. 

Dia juga dikenal aktif memberi informasi dan wejangan untuk kesehatan bayi. Karena itulah, saat dr Indra ditetapkan sebagai tersangka, banyak yang tak percaya. Rata-rata mengaku lemas, syok, apalagi para orang tua yang anaknya selalu ditangani langsung oleh dr Indra. Ada juga yang mengaku kecewa, tak menyangka dokter yang selama ini dipercaya merawat anak-anaknya, begitu tega memberikan vaksin palsu.

Salah satu orang tua Mariyam berujar, anaknya terlahir dengan fisik kurang sempurna di RS Harapan Bunda. Nah, selama anaknya diberi vaksin oleh dr Indra, dirinya selalu mendapatkan wejangan yang menguatkan dan memotivasi.

Beberapa orang tua lainnya mengungkap bahwa dr Indra ini kerap menyodorkan vaksin tanpa lewat rumah sakit. Kwitansi dan pembayarannya pun tertulis dan dilakukan di tempat, tanpa melalui administrasi di RS Harapan Bunda. Dia disebut bekerja sama dengan seorang suster di RS Harapan Bunda yang lebih dahulu ditetapkan jadi tersangka oleh Bareskrim.

"Terakhir vaksin cacar punya pribadi dr Indra. Bayar diam-diam sama suster Rp 1 juta, dan sekarang dia (dr Indra) jadi tersangka? Hancur sekali hati ini," kata Nunu, salah satu orang tua korban.

Soal praktik pemberian vaksin oleh dr Indra ini sebelumnya juga sudah diungkapkan orang tua korban saat ditemui Direktur Utama Rs Harapan Bunda dr Finna, Kamis (14/7) tengah malam.

"Tolong usut siapa saja yang bermain. Ada suster ada dokter yang bermain di situ. Saya enggak suudzon, tapi saya punya data yang bisa ibu pakai. Saya punya data dan runutan waktunya lengkap dari bulan Maret sampai Juni," ujar salah satu orang tua saat itu. Dia membawa data-data lengkap pemberian vaksin terhadap anaknya di RS Harapan Bunda.

"Vaksin diakui suster Irna punya dr Indra. Hanya dr Indra yang punya. Saya tahu Maret sampai Juni pediacel habis, kosong. Saya sudah cek ke beberapa rumah sakit. Lalu kemudian saya ditelepon sama oknum suster namanya Irna, bahwa ada pediacel di sini (RS Harapan Bunda). Ketika ada pediacel itu, kita otomatis ke sini dan dihadapkan dengan suster badannya besar, orangnya keriting, saya enggak tahu namanya siapa. Saya dilayani dan kagetnya saya pembayaran dengan kuitansi tertulis tidak pakai nomer," sambungnya memaparkan.

Para orang tua berharap pihak RS Harapan Bunda memberi keterangan jelas sejak kapan suster Irna dan dr Indra ini berpraktik. Polisi juga diminta mengusut tuntas siapa-siapa saja oknum-oknum lain yang terlibat. Para orang tua juga menilai manajemen rumah sakit gagal dalam melakukan fungsi pengawasan baik dalam pengawasan obat maupun para pegawainya.

Para orang tua korban berharap dr Indra atau polisi bisa memberi keterangan seperti apa keterlibatan dr Indra ini. Soalnya dr Indra juga diketahui berpraktik di beberapa rumah sakit lainnya di Jakarta.

"Saya berdoa mohon sama Allah dibukakan yang sebenar-benarnya. Jika memang dr Indra yang bersalah, harus dihukum sesuai perbuatannya. Jika dia memang hanya jadi korban juga, semoga dibuka jalan kebenarannya dan diberikan yang terbaik untuk kita semua," ujar salah seorang orang tua, Galuh. ( Detik.com )



Rabu, 01 Juni 2016

GURUKU SAYANG, GURUKU MALANG | Pontianak Informasi



IBU PERTIWI MENANGIS
Kasus guru yang mencubit anak murid berakhir di sel penjara jadi perhatian publik.
Guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Nurmayani, dibui di Rumah Tahanan Klas II Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Nurmayani menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri Bantaeng di rutan tersebut sejak Kamis (12/5/2016), sambil menunggu kasusnya disidangkan di pengadilan.
Nurmayani dilaporkan ke polisi oleh orangtua murid, karena mencubit anaknya.
Akibatnya Guru Biologi tersebut mengalami stres berat. Penyakit diabetes kering yang dialaminya juga kambuh.
Dia pun beberapa kali pingsan di malam pertama menjalani masa tahanan.
Menurut pihak keluarga, Nurmayani sudah mengajukan permohonan maaf dan damai atas kasus itu, namun tidak direspons oleh keluarga siswa.

Guru biologi tersebut mencubit muridnya lantaran saat hendak melaksanakan shalat Dhuha di Mushallah sekolah, dua orang murid main siram-siram air sisa pel dan mengenai ibu guru Maya.
Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-2013) Mahfud MD pun ikut mengomentari kasus Nurmayani Salam yang telah mendekam di penjara sejak Kamis ini,

�Waktu saya sekolah dulu orang tua saya sering datang berterima kasih kepada guru jika guru menghukum saya. Sekarang moral rontok,� kata pakarhukum tersebut di akun Twitternya pada Senin (16/05/2016).

Jaman dulu mah, ngadu orang tua habis dihukum guru, malah ditambahin dan di sukurin.. Sekarang, ngadu ke orang tua panjang urusan.. 
GURUKU SAYANG, GURUKU MALANG
Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu seorang artis Zaskia Gotic menghina lambang negara kita malah dilantik menjadi Duta Pancasila. 
Sangat berbeda dengan kasus yang menimpa Ibu guru Nurmayani seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang keras mencerdaskan anak bangsa. Hanya karena persoalan sepele mencubit muridnya harus mendekam di jeruji penjara.
Akankah kita diam saja melihat dunia pendidikan kita dikebiri atas nama UU perlindungan anak. Bagaimana jika ternyata anak-anak itu yang ngawur dan kebablasan.
Bantu sebarkan artikel ini sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang terjadi dan kepedulian serta dukungan moril kepada seorang pengajar seperti Ibu guru Nurmayani.
SAVE NURMAYANI..
Penulis Editor : Wayan Diana
Dari berbagai sumber

Rabu, 25 Mei 2016

4 WANITA BERHIJAB DITANGKAP BNN KARENA BAWA SABU DI KERUDUNG DAN CELANA DALAM | Pontianak Informasi



NKRI NEWS, Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap empat wanita kurir narkotika asal Medan. Keempat kurir tersebut ditangkap petugas saat membawa narkotika jenis sabu seberat 2 Kg di wilyah Bangkalan, Madura. Mereka ditangkap di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur. Keempat wanita berkerudung tersebut berinisal A(32), Q (27), LM (19), dan N (27). 

"Petugas menangkapnya di Bandara Juanda Surabaya saat turun dari pesawat. Saat digeledah petugas mendapati sabu yang disimpan di kerudung dan celana dalam tersangka," ujar Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari kepada wartawan di Kantor BNN, Jl MT Haryono, Jakarta Timur, Selasa (24/5/2016).



Arman melanjutkan, para tersangka ini sengaja menggunakan modus lama yakni body rafting atau sengaja menyimpan dan melilitkan narkotika pada bagian tubuh tertentu sebagai trik untuk mengelabui petugas. 

"Jadi ini modus lama yang kembali digunakan oleh para kurir narkoba, karena modus yang sering digunakan para kurir sudah sering tercium petugas," katanya.

Tak hanya itu, di tempat yang berbeda tiga tersangka kurir sabu juga ditangkap BNN. Petugas menangkap ketiganya saat membawa narkotika jenis sabu seberat 3,98 Kg yang disimpan di dashboard truk. Mereka berinisal SM (33), S (38), dan H (29). 



Dari ketujuh tersangka yang ditangkap, kata Arman, mereka merupakan satu jaringan narkotika yang dikendalikan oleh MUS yang kini masih buron. Diduga barang haram yang dikendalikan oleh DPO tersebut berasal dari China dan masuk ke Indonesia melalui jalur laut.

"Mereka saling kenal, meskipun terpisah dan berbeda tempat jaringan ini tetap di kendalikan oleh satu orang yaitu MUS yang kini masih dalam pengejaran petugas," tegasnya. ( news.detik.com )

BACA JUGA : BELAJAR MEMAHAMI NIAT BAIK SEORANG JOKOWI




Senin, 16 Mei 2016

Netizen marah dan minta pembunuh sadis `gagang pacul` dihukum mati | Pontianak Informasi



NKRI NEWS - Netizen pembaca setia LensaIndonesia.com sepakat pelaku pembunuhan sadis yang menancapkan gagang pacul di kemaluan Enno Fahira (18) hingga karyawati PT Polyta Global Mandiri itu tewas dengan kondisi mengenaskan, wajib dihukum mati.
Kebanyakan para netizen sangat geram dengan ulah biadab para pelaku pembunuhan sadis itu dan meminta Komnas HAM untuk tak membela para pelaku kasus asusila itu. Salah satunya dari akun udehnans yang menulis �Suruh pendukung HAM dan Komnas HAM baca berita ini� biar pikirannya terbuka� fresh dikit� jangan dikit dikit membela pelaku yg mau dihukum mati.�
Ada juga kiriman akun iracurahjer yang tak bisa menahan rasa geramnya dan menulis �Setuju pelaku harus dihukum mati klo hanya cm dihukum 10-20 thn percuma si pelaku tdk akan jera, apalagi klo cm dihukum kebiri percuma juga akan menambah emosional pd pelaku. Sdh gk sah pikir panjang lagi langsung disahkan aja untuk hukuman mati bagi pelaku. Toh si pelaku juga gk mikir dia akan memerkosa dan membunuh ya khannn..�
Sedangkan akun Kiswoyo45888 melalui komentarnya menyatakan �Pelaku nya harus di hukum mati? supaya tidak terjadi lg seperti itu? dan hukum harus tegas.
Komentar paling pedas dikeluarkan akun ketut.riyadi dengan memaki para pelaku pembunuhan sadis sebagai binatang itu dan meminta agar mereka dihukum mati. �anj�iiiing lo pada�anjiiiing�dasar anjiiiing�.matiin aja dah 3 anak itu..dasar anjiing. orang baek2 ni korban masalahnya�maaf kalo emosional saya muslim punya anak perempuan & ibu.� tulisnya dalam komentar berita.
Sementara akun ayuivan mengaku sebagai perempuan dirinya makin merasa terancam karena hukuman terhadap pelaku asusila di Indonesia diangapnya kurang tegas �bangsat tuch orang kyak gto� di hukum mati aja� biar yg lain mikir dua kali� hukum indonesia terlalu lemah� para perempuan makin terancam�.� tulisnya.
Hal yang sama juga diungkapkan akun echamee123. �Tidak punya hati 3 pelaku itu, hukum mati saja pak .. Wanita di indonesia semakin tidak aman, krna bnyk orang yg seperti mereka..� serunya.
Perlu diketahui, pembunuhan sadis terhadap Enno Fahira (18) hingga karyawati PT Polyta Global Mandiri yang tewas setelah kemaluannya dimasuki gagang pacul akhirnya berhasil diungkap polisi. Tiga pelaku masing-masing Rahmat Alim (15) pelajar SMP dan dua karyawan PT Polyta Global Mandiri yang notaben rekan kerja korban, Rahmat alias Dayat dan Imam Hariadi, diringkus tim gabungan POlda Metro jaya. LENSAINDONESIA.COM

BACA JUGA : Prabu Siliwangi dan Mitos Maung Dalam Masyarakat Sunda