Tampilkan postingan dengan label RAMADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAMADAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Semua Kitab Suci Diturunkan Pada Bulan Ramadhan | Pontianak Informasi


[portalpiyungan.com] Semua Kitab Suci Dari Allah swt diturunkan Pada Bulan Ramadhan.

Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur�an juga diturunkan di bulan yang istimewa ini.

�Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan.
Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan.
Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan.
Zabur diturunkan pada tanggal delapan belas Ramadhan.
Dan Al Qur`an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.�

Hadits ini diriwayatkan Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath Thabarani Al Lakhami rahimahullah (w. 360 H) dari Ali bin Abdil Aziz dari Abdullah bin Raja` dari Imran Al Qaththan dari Qatadah bin Di�amah dari Abul Malih bin Usamah dari Watsilah bin Al Asqa� Radhiyallahu �Anhu, dari Rasulullah Shallallahu �Alaihi wa Sallam.(Al Mu�jam Al Awsath, Bab Al �Ain, Man Ismuhu �Aliy, hadits nomor 3882). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah (1575) dan Shahih Al Jami� Ash Shaghir (2377).

Semua kitab suci samawi itu langsung diturunkan sekaligus kepada para rasulnya, kecuali Al Qur'an yang diturunkannya di Baitul �Izzah yang berada di langit bumi kemudian disampaikan secara berangsur-angsur oleh malaikat Jibril kepada rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Ibnu Katsir rahmatullah �alaih dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Quran Al-�Azhim (I/460-461 �Darul Hadits), menerangkan:

Allah menyanjung bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-�Azhim. Karena hal ini pula Dia mengistimewakannya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kitab-kitab suci diturunkan kepada para nabi ��alaihimussalam� di bulan ini.

Imam Ahmad bin Hanbal �rahimahullah� [Al-Musnad VI/107] berkata, Abu Sa�id Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, �Imran Abul �Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa�, bahwasannya Rasulullah �shallallahu �alaihi wa sallam� bersabda,

????? ??? ??????? ?? ??? ???? ?? ????? ? ? ????? ??????? ??? ???? ?? ????? ? ??????? ????? ??? ??? ?? ????? ? ???? ???? ?????? ????? ? ????? ??? ?? ?????

�Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Quran pada dua puluh empat Ramadhan.�

Kamis, 16 Juni 2016

Safari Ramadhan Imam Palestina di Timika Papua | Pontianak Informasi


Hafizh Quran, suara merdu, muda, cakep dan menguasai panggung. Itulah yang membuat Syaikh Nezar Abdel Raouf Al-Sheyab, imam Palestina yang bertugas di Timika (Papua) senantiasa disambut dan dielu-elukan jamaah. Dan satu lagi, yang ini saya rasa �kesalahan fatal� panitia di Timika karena menyampaikan ke jamaah bahwa Syaikh Nezar masih bujang, belum menikah.

Pasalnya, status tersebut membuat saya sering kalang kabut. Bagaimana tidak, setiap usai tarawih, jamaah perempuan baik yang muda maupun tua berebut mendatangi Syaikh, bahkan nyaris terjadi histeria� Astaghfirullah. Mereka minta ada sesi foto bersama Syaikh usai shalat tarawih. Apalagi kalau Syaikh mulai bernasyid dengan suara merdunya. Mantap. Bertambah-tambahlah jamaah makin terpana. Bahkan dalam sebuah kesempatan, panitia terpaksa minta bantuan kepolisian untuk melakukan pengamanan karena membludaknya jamaah sehingga Syaikh nyaris tidak bisa keluar. Betul-betul mirip artis...

Itulah penggalan dari perjalanan Syaikh Nezar Abdel Raouf Al-Sheyab yang diundang oleh Sahabat Al-Aqsha menjadi imam tarawih dan dikelilingkan oleh Baitul Maal Hidayatullah ke berbagai daerah. Salah satunya ke Timika, Papua, kota yang juga kali pertama saya kunjungi.

Sambutan atas kehadiran Syaikh dari Palestina ini cukup semarak sejak awal kedatangannya. Begitu tiba di bandara Timika, Syaikh disambut oleh jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Timika bersama tokoh masyarakat. Keluar bandara dikawal kendaraan voorijder polisi dengan sirine yang meraung-raung sepanjang jalan.

Sepanjang kegiatan Silaturrahim Ramadhan Imam-imam Palestina di Indonesia (SIRAMAN MANIS) di Timika, MUI nampaknya tidak ingin ketinggalan peran. Maka, dalam setiap kesempatan Ketua MUI Timika Ust. Muhammad Amin memimpin langsung penggalangan dana dari jamaah. Seperti melelang harga tangki untuk kebutuhan air bersih di Gaza pada jamaah setiap kali berlangsung penggalangan dana. Hasilnya luar biasa, ratusan juta terkumpul.

Akan tetapi, tidak semua yang dialami merupakan cerita indah. Ada juga ketegangan dan cerita sedihnya. Dalam sebuah perjalanan menuju salah satu masjid untuk melaksanakan tarawih, kami sempat terjebak perang antarsuku, Jawa dan Kay. Pemicunya sederhana, orang Kay naik ojek milik orang Jawa, kemudian jatuh. Bukannya ditolong, malah ditinggal karena tukang ojeknya sudah takut duluan. Marahlah orang Kay dan perang antarsuku tidak terhindarkan. Mobil kami terjebak di tengah mereka. Satu-satunya pikiran saya adalah bagaimana Syaikh selamat. Karena, ini tamu Sahabat Al-Aqsha (SA) dan saya adalah pihak yang paling bertanggung jawab karena mewakili SA. Syukurlah Ustadz Syakir sigap dan segera menelepon Kapolres. Maka, datanglah polisi untuk mengamankan Syaikh keluar dari lokasi perang antarsuku melalui jalan tikus.

Satu lagi yang senantiasa saya mintakan dalam setiap doa-doa saya: semoga Syaikh tidak terkena malaria. Karena, cerita Timika dan Papua seringkali berhubungan erat dengan malaria. Apalagi ustadz-ustadz Hidayatullah sering cerita nyamuk di Papua sebesar anak ayam. Betul-betul membuat saya tidak pernah lepas berdoa. Jangan sampai Syaikh terkena malaria.

Penulis: M Nurman Abu Hikyah | Sahabat Al-Aqsha

Rabu, 15 Juni 2016

Dagangan Makanan Laris Mulai Sore, Tak Relevan Salahkan Perda Larangan Jualan Siang Hari Ramadan | Pontianak Informasi


by Umma Azura

Di kota saya, setiap Ramadhan pedagang musiman tumbuh seperti jamur di musim hujan. Bahkan, salah satu masjid besar, yang berlokasi tak jauh dari rumah saya, satu Ramadhan di kawasan mesjid dan sekitarnya, ditandai dengan lapak-lapak pedagang yang ramai bermunculan.

Beberapa tetangga saya, yang menjual es buah di setiap Ramadhan, selalu tersenyum puas dengan keuntungan yang bisa diraupnya. Padahal mereka baru berjualan di sore hari pukul 4.00 sore.

Maka, hal yang sangat absurd menurut saya, jika perda larangan berjualan di siang hari saat Ramadhan, dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi.

Bukankah kita sudah sangat familiar, dengan harga yang melambung setiap Ramadhan? Artinya, masa itu permintaan sedang melonjak. Kalau melonjak, keuntungan menanti pada pelaku usaha.

Lagi pula, apakah otonomi daerah sudah dianggap angin lalu saja, hingga pemerintah pusat bisa langsung ikut campur tangan mencabut perda? Padahal perda-perda dibuat dengan mempertimbangkan kearifan lokal sebuah daerah.[]

Selasa, 14 Juni 2016

Satpol PP Hanya Berani Sama Pedagang Kecil? Warga Ini Buktikan Mal-Mal di Serang Patuhi Perda Ramadhan | Pontianak Informasi


Berikut penuturan salah satu warga Serang, Detty Meriyanti:

Bismillahirromannirrohim..

"Beraninya sama pedagang kecil aja tuh satpol pp.. gerebek tuh MCd, K*C, PIzzA H*T dll yang buka di mol mol!"

Begitu salah satu komentar netizen menanggapi kasus razia di kota Serang.

(Benarkah yg di mal mal tak patuh aturan Ramadhan di kota Serang? Larangan buka dari jam 04.30-16.00)

Ini sy photoin RM siap saji di sepanjang jalan di kota kami.. Kota Serang yang Santri dan Mandani..

(Foto-foto ini) Saya ambil dalam perjalan dari rumah (Senin, 13/6/2016) jam 12.30 menuju ke MOS Mall Of Serang.. anter anak lanang yang minta belikan sendal.. yaa pemandangan seperti tahun2 lalu.. tempat makan di mall serang masih tertutup rapat, ada salah satu RM di mall sudah buka dari awal cuma terlihat tampak depan aja. Saya nanya sama pelayan:

Saya: "Mas udah buka ya?"
Pelayan: "Sudah bu.. mau booking bu?"
Saya: "Gak mas.. saya mau bungkus dimsum aja"
Pelayan: "Ooh maaf bu.. klo pesen menu belum siap"

Naaahh...cakeep!


Begitu juga rumah makan tenda2 kecil dan rumah makan padang di sepanjang jalan.. sayang gak sempet di photo keburu turun hujan jadi burem nanti hasilnya klo di ambil dari dalam kaca mobil.

Mudah2an dengan adanya pemberitaan kemarin tidak akan goyah tetap isqomah dan agamis untuk kota Serang.

Klo emang kurang bijak cara menanganinya, mudah2an di perbaiki lagi.. walau surat perda sudah.. teguran juga sudah..

[Berikut foto-fotonya]


[portalpiyungan.com]

Sumber: fb

LOGIKA JAHILIYAH | Pontianak Informasi


Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Orang jahiliyyah dulu mengatakan bahwa bangkai binatang halal dimakan dengan alasan �binatang yang kalian bunuh dengan cara menyembelih saja halal dimakan, kenapa binatang yang Allah langsung mematikannya kalian katakan haram?�

Orang jahiliyyah juga tawaf dalam keadaan telanjang. Ketika ditanya apa sebabnya, mereka menjawab: "Pakaian yang kita gunakan untuk bermaksiat kepada Allah tidak pantas kita gunakan untuk menyembah-Nya".

Sepintas lalu logika orang-orang jahiliyyah ini masuk akal bukan?

Dan orang-orang jahiliyyah modern sekarang kelihatannya berusaha menghidupkan semacam logika-logika jahiliyyah kuno ini. Cuma sayangnya sebagian orang yang mengaku muslim ikut pula membenarkan.

�Yang berpuasa harap menghormati kebebasan yang tidak berpuasa�.

�Pemimpin kafir tapi adil lebih baik dari pada pemimpin muslim tapi korupsi�.

�Menjilbabi hati lebih penting dari pada menjilbabi kepala�.

�Yang anti Pancasila lebih berbahaya dari pada komunis�.

Silahkan ditambah�

Mereka telah menjadikan agama sebagai main-main dan senda gurau:

?????? ????????? ?????????? ????????? ??????? ????????? ????????????? ?????????? ?????????? ? ????????? ???? ???? ???????? ?????? ????? ???????? ?????? ????? ???? ????? ??????? ??????? ????? ??????? ?????? ???????? ????? ?????? ??? ???????? ??????? ? ?????????? ????????? ?????????? ????? ???????? ? ?????? ??????? ???? ??????? ????????? ??????? ????? ??????? ???????????

"Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu." (Al-An'am: 70)


Senin, 13 Juni 2016

"Menghormati yang Tidak Berpuasa" Oleh: Tere Liye | Pontianak Informasi


"Menghormati yang Tidak Berpuasa"

Tulisan: Tere Liye

12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang sangat membingungkan ini: Orang-orang berpuasa diminta menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Maka, saat ramadhan datang, apa salahnya jika tempat-tempat hiburan tetap buka, rumah makan tetap beroperasi penuh, dan lain sebagainya. Apa salahnya jika klub malam tetap beroperasi. Toh, mereka juga mencari makan, nafkah dari bisnis mereka.

Saya membaca tulisan itu di milist (jaman itu belum ada media sosial). Saya masih muda, masih tidak berpengalaman. Saat membaca tulisan tersebut, aduhai, isinya masuk akal sekali. Benar loh, kan kita berpuasa itu disuruh menahan diri, agar jadi lebih baik, masa� kita akan tergoda saat melihat warung buka, masa� kita akan tergoda saat melihat tempat hiburan ada di mana-mana? Full beroperasi. Kalau masih tergoda, berarti puasa kita nggak oke.

Itu logika yang masuk akal sekali. Tapi saya bersyukur, saya tidak pernah membiarkan �logika� sendirian saat menentukan prinsip-prinsip yang akan saya gigit. Saya selalu memberikan kesempatan mendengarkan pendapat lain.

Baik. Itu mungkin masuk akal, orang-orang berpuasa disuruh menghormati orang-orang tidak berpuasa, tapi di mana poinnya? Apakah orang-orang yang berpuasa mengganggu kemaslahatan hidup orang-orang tidak berpuasa? Apakah orang-orang berpuasa ini punya potensi merusak? Sehingga harus ada tulisan, himbauan, pernyataan:

"Kalian yang puasa, hormatilah orang yang tidak berpuasa."

No way, man, itu logika yang bablas sekali. Saya tahu, ada banyak razia penuh kekerasan dilakukan kelompok tertentu atas tempat-tempat hiburan, warung-warung, dll. Tapi itu bukan cerminan kelompok besar muslim di negeri ini. Kelompok besarnya, bahkan tidak suka dengan cara-cara penuh kekerasan ini, pun tidak suka dengan kelompok ini.

Lantas siapa yang seharusnya menghormati?

Default dalam situasi ini adalah: ingatlah baik-baik, ramadhan itu sudah ribuan tahun usianya, 1.434 tahun tepatnya (saat tulisan ini ditulis -red). Bahkan perintah shaum, itu hampir seusia manusia di bumi ini, agama-agama terdahulu juga memilikinya. Kalau itu sebuah tradisi, maka dia lebih tua dibanding tradisi apapun yang kalian kenal, silahkan sebut tradisinya, puasa lebih tua.

Maka, tidak pantas, manusia yang usianya paling rata-rata hanya 60 tahun, tiba-tiba mengkritisi puasa, memandangnya sebagai sesuatu yang artifisial, tidak penting, dsbgnya. Ramadhan adalah bulan paling penting dalam agama Islam, jelas sekali posisinya.

Sama dengan sebuah komplek, itu komplek sudah 1.434 tahun punya tradisi tidak boleh memelihara hewan peliharaan. Kemudian datanglah keluarga baru, membawa hewan yang berisik sekali setiap malam. Siapa yang disuruh menghormati? Wow, warga satu komplek yang disuruh menghormati keluarga dengan hewan berisik?

Demi alasan egaliter, HAM, kesetaraan, kebebasan, dan omong kosong lainnya. Kalian tahu, ketika orang-orang tidak punya argumen substantif dalam hidup ini, maka senjata mereka memang hanya itu: kebebasan.

Amunisi paling mudah saat melawan agama adalah: kebebasan. Hingga lupa, siapa sih yang over sekali menyikapi situasi ini?

Karena sejatinya, tidak ada pula yang menyuruh warung-warung full tutup, warung makan cukup diberikan tirai saat bulan Ramadhan, semua baik-baik saja. Itu lebih dari cukup. Lantas soal klub malam? Diskotik? Tempat menjual minuman keras?

Kalian punya 11 bulan untuk melakukannya, diminta libur sebulan, apa susahnya? 11 bulan orang lain menghormati kalian melakukannya, maka tiba giliran 1 bulan, apa susahnya mengalah? Tidak perlu sampai ribut, sampai berantem, sampai dirazia, cukup kesadaran diri saja. Tidak ada yang meminta kalian tutup 12 bulan.

Kusutnya masalah ini, kadang yang mengotot sekali justeru yang sebenarnya beragam Islam. Orang-orang yang beragama lain, sudah otomatis menyesuaikan diri. Saya punya banyak teman-teman non Islam, saat mereka makan siang, mereka dengan sangat respek minta ijin, bisa menempatkan diri dengan baik.[]


"YANG PENTING KAN FAHAM BUKAN KHATAM" Benarkah? | Pontianak Informasi


[portalpiyungan.com] Sebagian teman jika ditanya, sudah berapa juz al Quran yang dibaca pada bulan suci ini? Ada yang menjawab "Saya sudah satu kali khatam", ada juga yang menjawab "bagi saya yang penting bukan berapa banyak ayat yang dibaca, tetapi berapa banyak ayat yang bisa di fahami."

Bagi anda yang menjawab �Saya sudah satu kali khatam dan akan mengkhatamkan berkali kali, tentunya itu adalah perbuatan yang sangat mulia, bahkan Imam Syafi�I mengkhatamkan Al Quran 60 kali di bulan Ramadhan, dengan demikian kuantitas (jumlah) bacaan juga menjadi penting di bulan ini tentunya dengan tidak menyampingkan kualitasnya.

Salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Qur�an. Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan al-Qur�an kepada Jibril �alaihis salam di setiap malam di bulan Ramadhan.

Demikian pula salafus shalih, mereka memperbanyak membaca al-Qur�an di bulan Ramadhan, di dalam maupun di luar sholat.

Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadhan, "Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca al-Qur�an dan memberikan makanan."

Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan maka beliau menutup majelis hadits dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur�an dari mushaf.

Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur�an setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Ibrahim an-Nakha�i rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkan al-Qur�an setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-�Aqidah).

Jika kita melihat contoh yang dilakukan oleh nabi dan para salafus shalih, maka dapat kita katakan mengkhatamkan Al Quran berkali kali di bulan Ramadhan adalah perbuatan yang sangat mulia.

Dan janganlah dengan alasan bahwa yang penting adalah mengamalkan dan meresapi kandungannya lalu anda tidak mengkhatamkan Al Quran di bulan ini, alangkah lebih baiknya jika membaca, menghafal dan memahami kita bisa lakukan secara bersama sama.

Saya khawatir itu hanya alasan anda untuk berinteraksi secara minimal dengan Al Quran di bulan yang penuh kemuliaan ini, dan akhirnya kedua-duanya tidak bisa maximal yaitu membaca dan memahami, lalu anda tidak menjadi sibuk dengan Al Quran di bulan mulia ini.

Nabi Saw bersabda � ???? ?????? ?? ?????? � Bacalah Al Quran dalam 40 hari � ( Hr Abu Daud)
Hadist di atas menunjukkan bahwa menyelesaikan bacaan Al Quran dalam sebulan adalah sebuah perbuatan yang sesuai dengan sunnah.

Hadist ini juga menuntun kita bahwa janganlah seorang muslim mengatakan "Yang penting saya membaca Al Quran. Adapun perkara kapan khatamnya itu tidak penting, yang penting paham, tadabbur dan seterusnya". Sikap ini merupakan bentuk interaksi dengan Al Quran yang belum sesuai dengan sunnah Nabi saw, demikian jelas KH Abdul Aziz Abdur Rauf Lc Al Hafizh dalam bukunya Tarbiyah Syakhsiyah Quraniyah.

Adapun hadist yang berbunyi ?? ???? ?? ???? ?? ??? ?? ???? "Tidak akan paham bagi yang membaca Al Quran kurang dari tiga hari", hadist ini menurut para ulama berlaku untuk diluar bulan Ramadhan, sedangkan untuk di bulan Ramadhan silahkan mengkhatamkan Al Quran berkali �kali.

Dengan demikian, mari kita khatamkan Al Quran dibulan ini dan usahakan lebih dari satu kali karena kemuliaan bulan ini, dan mari juga kita hafal ayat ayatnya kemudian kita tadabburi, karena ketiga kegiatan tersebut adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan. (Adi Sucipto)

#RamadhanKariim

Minggu, 12 Juni 2016

Madzhab Syafi'i: Umat Islam Tidak Puasa di Bulan Ramadhan Harus Dipenjara, Bukan Dihormati | Pontianak Informasi

Madzhab Syafi'i: Umat Islam Tidak Puasa di Bulan Ramadhan Harus Dipenjara, Bukan Dihormati | Pontianak Informasi


Pendapat ulama Syafi�iiyah sebagai berikut:

Al-Imam Muhyiddin An-Nawawi dalam menjelaskan Hadits Riwayat Muslim 1/53 Kitabul Iman, Bab al-Amru biqital an-Nas Hatta Yaqulu Laila Illallah Muhammad Rasulullah, beliau menjelaskan:

?? ????? ?? ????? ??????? ????? ?? ???? ????? ?????? ???????

"Bahwasanya (meninggalkan) puasa tidaklah (menjadikan) manusia diperangi, akan tetapi dipenjara dan ia dilarang untuk makan dan minum."

Dari penjelasan Al-Imam an-Nawawi dapat diambil Faidah bahwa:

Puasa adalah syariat yang wajib dilaksanakan setiap Muslim di bulan Ramadhan terkecuali yang udzur syar�i. Mereka yang tidak berpuasa sebaik mungkin tidak memancing orang untuk membatalkan puasanya.

Pernyataan Imam Nawawi sangat jelas bahwa mereka yang sengaja tidak puasa di bulan Ramadhan tanpa udzur syar�i harus mendapat hukuman penjara dan dilarang untuk makan dan minum, bukan malah dihormati.

Pernyataan harus menghormati mereka yang tidak berpuasa dapat menimbulkan persepsi bahwa pembuat pernyataan tersebut menyuruh kita untuk menghormati pelanggar syari�at Alloh yang seharusnya harus kita cegah.

Pernyataan yang mengatakan harus menghormati orang yang tidak berpuasa, tidak lain adalah pernyataan yang tidak ada dasar dalam agama.

(Fahmy Iskandar Harahap)


Hormati yang Puasa, Rumah Makan Ini Malah Omzet Meningkat | Pontianak Informasi


[portalpiyungan.com] Rumah Makan Padang ini patut dijadikan contoh bagaimana mengelola rumah makan di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Seperti yang dilakukan Restoran Padang Sederhana di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan ini.

Selama Ramadhan, restoran ini tetap melayani pemesanan dalam bentuk bungkusan. Tetapi tidak melayani pelanggan yang ingin makan di tempat sebelum waktu berbuka puasa tiba.

Di bulan puasa pun restoran ini tutup sejak sekitar shubuh-siang. Seperti terlihat pada spanduk di depan pintu masuknya, jadwal buka restoran siang-malam-dinihari, pukul 13.00-04.00 WITA. Sementara di luar Ramadhan buka 24 jam.

Kebijakan itu diberlakukan untuk mengagungkan bulan Ramadhan dan menghormati pemeluk agama Islam khususnya yang berpuasa. Kebijakan ini pun bukan bermaksud tidak menghormati yang tidak berpuasa.

�Kebijakan ini bukan karena kami membenci agama lain, tapi ini sudah menjadi peraturan lama kami,� kata Widodo, salah seorang penanggung jawab restoran tersebut, kepada hidayatullah.com, Selasa (7/6/2016) malam, 3 Ramadhan 1437 lalu.

Pria perantauan tersebut juga menyebutkan, peraturan di atas bukan sekadar pajangan.

�Kan, ada ya (pengelola rumah/warung makan) yang masih sembunyi-sembunyi membolehkan makan di tempat. Kalau kami betul-betul tidak boleh, Mas,� ujarnya.

Saat ditanya akan potensi menurunnya omzet karena kebijakan itu, Widodo menjawab, manajemen mereka tidak takut akan hal itu. Justru ia akui omzet mereka malah meningkat

�Ya sekarang aja, Mas, karena masih awal-awal Ramadhan jadi belum kelihatan. Nanti biasanya akan menaik, kok, omzet kita,� tutup pria yang telah bekerja 8 tahun di restoran itu.

Semoga hal di atas menginspirasi pengelola rumah/warung makan yang lain. Paling minimal tidak memberi peluang bagi orang yang berpuasa untuk sengaja berbuka tanpa uzur syari.*Zulfahmi

Sumber: Hidayatullah